Pages

Minggu, 13 Januari 2013

HIkmah Ritual-ritual Dalam Ibadah Haji


Haji  ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi tersebut, adalah selain Ka'bah dan Mas'a(tempat sa'i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa'i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain

Diantara hikmah ritual dalam ibadah haji antara lain:
a.       Pakaian Ihram, dalam pakaian ihram warna tidak menjadi prinsip, namun yang menjadi prinsip adalah tidak berjahit. Hal tersebut menunjukkan pemakainya supaya melepaskan diri dari sifat-sifat buruk yang lekat dalam dirinya, seperti merasa bangga, suka pamer, sombong dan takabbur. Lebih jauh lagi adalah timbul rasa merendahkan diri dan hina dihadapan Tuhannya, dan rasa tidak memiliki kekuatan apapun sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsy Allah berfirman: “wahai manusia sesungguhnya engkau kelaparan. Aku-lah yang memberimu makan. Sesungguhnya engkau telanjang, Aku-lah yang memberi pakaian.” , Firman Allah “ Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13).

b.      Berihram. Berihram merupakan niat, yaitu niat memasuki ibadah haji atau umrah sebagai pemenuhan atas panggilan Allah SWT. Menanggalkan segala kebesaran dan kemewahan, jabatan dan kesibukan duniawi untuk ihlas dan pasrah demi memnuhi panggilan Allah.
c.       Talbiyah.  Talbiyah merupakan panggilan Allah kepada seseorang untuk senantiasa dengan ikhlas memneuhi panggilan Tuhannya. Jamaah haji yang mengumandangkan talbiyah melahirkan pernyataan tunduk mutlak kepada petunjuk-petunjuk Allah, atas dasar keyakinan secara sadar bahwa sikap demikian itu akan membawa keberuntungan bagi manusia itu sendiri sekaligus malahirkan kesatuan kemanusiaan diantara sesama jamaah haji yang berkewajiban mengabdi kepada-Nya.
d.      Thawaf. Thawaf membawa makna maknawi berputar pada poros bumi yang paling awal dan palin dasar. Perputaran tujuh keliling bisa diartikan sama dengan jumlah hari yang beredar mengeliilingi kita dalam setiap minggu. Lingkaran putaran ka’bah merupakan arena pertemuan dan bertemu dengan Allah yang dikemukakan dengan do’a dan dzikir dan selalu dikumandangkan selama mengelilingi Ka’bah agar kita mengerti dan menghayati hakikat Allah dan manusia sebagai mahluknya, hubungan mahluk dan pencipta dan ketergantungan manusia akan Tuhannya.
Mencium hajar aswad bernilai sikap kepatuhan kepada sunnah Nabi SAW. Sebagaimana dalam perkataan Umar “sungguh aku mengetahui engkau hanyalah batu, sekiranya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah SAW telah menciummu dan mengusapmu, niscaya aku tidak akan mengusapmu dan menciummu” (HR. Ahmad)
e.        Sa’I. pelaksanakan Sa’i merupakan pelestarian pengalaman siti Hajar yang mencari air minum untuk anaknya diantara bukit shafa dan marwah. Diantara hikmah yang perlu dicerna dalam ritual ini adalah memberikan makna sikap optimis dan usaha yang keras serta penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah SWT. Dalam sa’I disyari’atkan Ramal, yaitu berjalan cepat (setengah lari) yang menunjukkan kekuatan dan kebesaran kaum muslimin serta keluhuran agama mereka. Sekaligus menakut-nakuti orang orang musyrik dan kafir pada waktu itu. Dalam hadits Rasulullah bersabda “semoga Allah mengasihi seseorang yang memperlihatkan kekuatan dirinya kepada mereka”.
f.       Bercukur. Perintah untuk bertahallul adalah agar kotoran yang melekat pada rambut menjadi hilang karena rambut kepala berfungsi menjaga otak dari berbagai penyakit. Mencukur wajib bagi laki-laki sedangkan perempuan tidak, dalam hadits dikatakan “tidak wajib atas perempuan mencukur rambutnya, tetapi wajib memendekkannya” (HR. Ibnu Abbas)
g.      Wukuf. Wukuf di arafah menandai muncak dari ibada haji sebagaimana hadits Nabi “haji adalah (wukuf) di Arafah” (H.R. Bukhari dan Muslim). Di padang arafah  seluruh jamaah haji dari segala penjuru dunia berkumpul di tempat yang dilambangkan sebagai maqam ma’rifah[1] ini dengan satu kesamaan tujuan, tidak ada perbedaan kaya atau miskin, hitam atau putih, orang biasa atau pejabat. Arafah menjadi wahana syi’ar haji yang paling penting diambil dari kata ta’aruf yang artinya saling mengenal. Setelah wukuf dilakukan, jama’ah haji merasakan bebas dari beban dosa kepada Allah, yakin do’a dikabulkan, dorongan untuk melakukan kebaikan lebih banyak terasa sangat kuat, dan rahmat Allah pun dirasakan menentramkan jiwanya. Dalam hadits Nabi bersabda “aku berlindung kepada Allah SWT dari (godaan) syetan yang terkutuk. Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka selain dari hari Arafah”. (HR. Muslim).
h.      Mabit di Muzdalifah. Setelah tenggelam matahari pada hari arafah, jamaah haji berangkat menuju muzdalifah untuk berhenti, istirahat dan bermalam di sana. Selama mabit jamaah disunnahkan memungut kerikil sedikitnya 7 butir untuk melontar jumrah Aqabah esok paginyasesamoainya di Mina. Disini tergambar jamaah haji bagaikan pasukan yang menyiapkan senjata dalam rangka berperang melawan musuh laten manusia, yaitu syetan yang terkutuk, kareka itu melempat jumrah adalah lambing memerangi syetan.
i.        Mabit di Mina. Terdapat dua pekerjaan penting yang perlu dilakukan selama di Mina. Pertama, melontar jamarat, yang pada hari Nahar melontar jumratul Aqobah dan pada hari Tasyriq melontar Jumratul Ula, Jumratul Wustqo dan Jumratul Aqabah. Kedua, mabit, yakni menginap dan tinggal di Mina selama hari Ayyamut Tasyrik. Diantara keistimewaan Mina antara lain:
1.      kawasan ini pada hari biasa tampak sempit san selalu menjadi luas secara otomatis sehingga dapat menampung seluruh jamaah. Sebagaimana ucapan Nabi “sesungguhnya Mina ini seperti rahim,ketika terjadi kehamilan daerah ini diluaskan oleh Allah”
2.      batu kerikil yang dilontarkan ke jumrah oleh jamaah haji yang hajinya diterima oleh Allah diangkat oleh malaikat ke langit. Dan batu yang dilontar oleh mereka yang tidak diterima dibiarkan menetap disekitar jumrah yang akhirnya dibersihkan, hal tersebut sesuai dengan ucapan Abdullah Ibn Umar.
j.        Melontar Jumrah. Ritual ini mempunyai hikmah yang yang besar sekali. Dimaksudkan sebagailambang lemparan terhadap iblis yang dilaknat oleh Allah. Diantara hikmah melempar jumrah adalah untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim beserta anak dan istrinya yang melempari iblis yang selalu menggodanya untuk tidak melaksanakan perintah Allah.
k.      Dam. Adalah suatu amalan ibadah yang wajib dilakukan oleh orang yang melakukan ibadah haji atau umrah sebagai pengganti suatu tata cara ibadah lain yang tertinggal, secara bahasa dam berarti darah. Hikmah yang harus difahami adalah menyadari kembali bahwa ibadah haji adalah laksana jihad, menegakkan agama Allah, dimana jihad itu sudah barang tentu berakibat mengalirnya darah sebagai syahid. Menegakkan agama Allah berarti membela iman, yang pada akhirnya menempati posisi keyakinan, “hidup dan mati adalah karena Allah, termasuk mati dengan mengelarkan darah”.
l.        Menyembelih qurban. Disamping meneladani nabi Ibrahim, dalam ritual ini mengandung hikmah:
1.      memperlihatkan ketaatan yang sempurna kepada Allah Yang Maha Agung.
2.      bersyukur kepada Allah berupa nikmat tebusan.
m.    Nafar. Secara bahasa nafar diartikan rombongan atau gelombang keberangkatan jamaah haji menuju Mina. Nafar terbagi dua: Nafar Awal yang jamaah haji menyelesaikan semua kewajiban hajinya di Mina sampai hari kedua Tasyrik, dan Nafar Tsani diharuskan bermalam lagi di Mina dan melontar Jumroh esok harinya (13 Dzulhijja) baru kemudian meninggalkan Mina. Hikmah adanya penetapan hokum Nafar berdasarkan firman Allah SWT dan amaliah Rasulullah SAW memberikan satu kontribusi alternative untuk dipilih oleh seseorang jamaah berdasarkan kepentingan masing-masing.[2]
n.      Thawaf Wada’. Dalam thawaf wada’ atau tawaf perpisahan ini ada bebrapa hal yang yang dapat dihayati antara lain:
1.      bersyukur kepada Allah atas rahmad-Nya sehingga dengan itu semua pekerjaan Haji atau Umrah dapat diselesaikan dengan baik dan semaksimal mungkin.
2.      mengharap kepada Allah agar semua amal Ibadah yang dikerjakan, tenaga, waktu, uang dan dana yang dikeluarkan untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah benar-benar mabrur disisi Allah.
3.      berdo’a dalam thawaf wada’ agar selama perjalanan pulang diberikan perlindungan dan keselamatan sampai tujuan.
4.      mengulangi ibadah yang boleh diulang-ulang sebagaimana pertemuan dengan ka’bah ini akan menimbulkan kenikmatan tersendiri, selain memperoleh balasan pahala.
5.      salah satu yang didambakana pasangan suami istri adalah keturunan dan generasi yang diridhai Allah. Sebagaimana terkandung dalam surat Al-Baqorah ayat 128 yang artinya: “ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan jadikanlah diantara anak cucu-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.


[1] Depag RI Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Hikmah Ibadah Haji, Jakarta: Hal. 62.
[2] Ibid., hal. 80

0 komentar:

Poskan Komentar